NIUS.id – Pengendara di Kota Bontang diminta meningkatkan kepatuhan berlalu lintas menjelang pelaksanaan Operasi Patuh Mahakam 2026 yang akan digelar serentak di seluruh Indonesia mulai 8 hingga 21 Juni 2026.
Pada pelaksanaan tahun ini, kepolisian melakukan perubahan strategi penindakan dengan meningkatkan porsi tilang manual di lapangan. Jika sebelumnya penindakan manual hanya sekitar 5 persen, kini meningkat menjadi 30 persen atau enam kali lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Menjelang operasi berlangsung, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bontang mulai melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Pendekatan humanis, edukatif, dan preventif tetap menjadi prioritas utama, namun pelanggaran yang berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal akan ditindak tegas.
Kasat Lantas Polres Bontang, AKP Purwo Asmadi, mengatakan tujuan utama operasi bukan semata-mata melakukan penindakan, melainkan membangun kesadaran masyarakat agar tertib berlalu lintas.
“Prinsip kegiatan kita adalah mengutamakan humanis, preventif, dan edukasi. Tetapi untuk pelanggaran tertentu yang berisiko tinggi terhadap keselamatan, kami juga harus bertindak tegas,” ujar AKP Purwo Asmadi.
Dalam Operasi Patuh Mahakam 2026, polisi memberikan perhatian khusus terhadap sejumlah pelanggaran yang dinilai sering menjadi penyebab kecelakaan lalu lintas.
Beberapa di antaranya adalah pengendara yang melawan arus, tidak menggunakan helm berstandar SNI, serta berkendara sambil menggunakan telepon seluler.
Menurut AKP Purwo, pelanggaran tersebut termasuk kategori pelanggaran kasatmata yang tidak hanya membahayakan pelakunya, tetapi juga pengguna jalan lainnya.
“Pelanggaran seperti melawan arus, tidak menggunakan helm, dan menggunakan ponsel saat berkendara memiliki risiko kecelakaan yang sangat tinggi. Karena itu menjadi fokus pengawasan selama operasi berlangsung,” katanya.
Selain tetap mengandalkan sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), petugas juga akan melakukan penindakan langsung melalui tilang manual di lapangan.
Kombinasi kedua metode tersebut diharapkan mampu menjangkau lebih banyak titik pengawasan, terutama lokasi yang belum tercover kamera ETLE.
“Di samping menggunakan ETLE, kami juga akan melakukan penilangan manual. Porsinya cukup tinggi, yakni 30 persen,” jelas AKP Purwo.
Peningkatan penindakan manual juga bertujuan mengantisipasi pelanggar yang berusaha menghindari pengawasan elektronik serta memperkuat efektivitas pengawasan lalu lintas secara menyeluruh.
Meski demikian, Satlantas Polres Bontang menegaskan bahwa keberhasilan Operasi Patuh Mahakam 2026 tidak diukur dari banyaknya surat tilang yang diterbitkan.
Polisi berharap masyarakat dapat membangun budaya tertib berlalu lintas atas kesadaran sendiri, bukan karena takut ditindak aparat.
“Kami mengharapkan kepatuhan untuk berlalu lintas. Tidak melulu harus ditindak dan tidak perlu harus ditilang. Yang terpenting adalah keselamatan pengguna jalan,” tegas AKP Purwo Asmadi.
Melalui Operasi Patuh Mahakam 2026, kepolisian berharap angka pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas di wilayah Kota Bontang dapat ditekan, sekaligus meningkatkan budaya keselamatan berkendara di tengah masyarakat. (*/Zk)



