NIUS.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mengajak masyarakat memperkuat peran keluarga dan pendidikan agama sebagai upaya membangun lingkungan yang sehat sekaligus mencegah berbagai persoalan sosial dan kesehatan, termasuk penyebaran HIV/AIDS.
Ajakan itu disampaikan Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati, menyusul diterbitkannya Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 yang memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nonmiliter dalam Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025–2029.
Menurut Alwiati, keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak sehingga komunikasi dan edukasi di rumah harus terus diperkuat.
“Saya berharap masyarakat meningkatkan komunikasi dan edukasi di lingkungan keluarga agar tidak terjerumus ke dalam LGBT. Anak-anak juga harus dididik untuk menghindari hal-hal seperti ini. Semua harus dimulai dari keluarga. Soalnya HIV juga bisa meningkat kalau begini,” ujarnya, Senin (6/7/2026).
Ia mengatakan Dinkes Balikpapan mendukung kebijakan pemerintah pusat tersebut. Menurutnya, Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama sehingga penyimpangan perilaku tidak dapat dibenarkan.
“Iya, betul sekali. LGBT itu ancaman bangsa. Bagaimanapun kita adalah negara yang agamis dan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Kita juga menjunjung tinggi keberagaman, tetapi bukan berarti mengesahkan penyimpangan-penyimpangan yang ada,” katanya.
Alwiati menjelaskan persoalan LGBT juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan masyarakat, terutama berkaitan dengan kesehatan mental serta upaya pencegahan HIV/AIDS.
“Kita sedang berusaha mencegah HIV/AIDS di Indonesia, terutama di Balikpapan yang sudah menjadi kota mini metropolitan, dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi. Tentu permasalahan penyakit seperti HIV juga berpotensi meningkat,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai data terbaru HIV/AIDS di Kota Balikpapan, Alwiati mengaku belum mengingat angka pastinya. Namun, ia menyebut kasus baru memang mengalami peningkatan.
“Kalau secara angka saya belum hafal. Namun memang terjadi peningkatan, terutama untuk kasus baru,” katanya.
Ia juga membenarkan bahwa laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL) masih menjadi salah satu kategori yang menjadi perhatian dalam upaya pencegahan HIV/AIDS.
“Betul, itu salah satunya. Kita harus menghindari pergaulan bebas dan mengutamakan nilai-nilai agama. Tidak ada satu pun agama yang menjunjung tinggi LGBT,” ujarnya.
Menanggapi fenomena yang dikenal di kalangan masyarakat sebagai “boti”, Alwiati menjelaskan bahwa dalam dunia kesehatan istilah yang digunakan adalah laki-laki seks dengan laki-laki (LSL).
“Nah, itu. Boti adalah istilah yang digunakan anak-anak sekarang. Kalau dalam dunia kesehatan, kami menyebutnya laki-laki dengan laki-laki atau LSL,” jelasnya.
Menurutnya, komunitas maupun organisasi juga memiliki peran untuk menjaga lingkungan agar tidak ada anggotanya yang terpengaruh.
“Yang perlu diutamakan adalah komunitas-komunitas maupun organisasi harus benar-benar menjaga agar tidak ada yang terpengaruh atau disusupi oleh LSL,” katanya.
Alwiati menilai perilaku tersebut sulit dikenali karena secara kasat mata terlihat seperti pergaulan pada umumnya. Karena itu, masyarakat diharapkan ikut berperan menjaga lingkungan.
“Ada di mana-mana. Kita sulit mengenali karena secara kasat mata terlihat seperti pergaulan biasa. Karena itu, masyarakat diharapkan ikut berperan menjaga lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan HIV merupakan penyakit yang dapat menular, sedangkan perilaku LSL dapat berulang karena dipengaruhi faktor psikologis.
“Kalau HIV memang menular. Kalau LSL, seseorang yang sudah memiliki pengalaman tersebut kemudian bisa mencari pasangan lain. Itu yang harus menjadi perhatian,” tuturnya.
Menurut Alwiati, kecenderungan seseorang mengulangi perilaku tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor psikologis.
“Lebih kepada faktor psikologis. Seseorang merasa nyaman dengan pengalaman tersebut, kemudian mengulanginya dengan orang lain. Jadi lebih kepada masalah psikologis,” katanya.
Untuk mencegahnya, Alwiati menilai pendidikan agama dan ketahanan keluarga harus terus diperkuat.
“Menurut saya melalui agama, pendidikan agama, dan penguatan keluarga. Biasanya mereka berasal dari keluarga yang kurang harmonis. Karena itu, keluarga harus diperkuat agar mampu membina anak-anaknya dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, keluarga yang rapuh, misalnya karena tidak adanya peran ayah atau mudah dipengaruhi lingkungan, menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian.
“Misalnya keluarga yang mudah dipengaruhi atau tidak ada peran ayah di dalamnya. Peran ayah sangat penting dalam pencegahan ini. Figur ayah memiliki peran besar dalam keluarga,” terangnya.
Laporan Wartawan NIUS.id, SR



