ADVERTORIALBontangKALTIMPemerintahTEKNOLOGI

Wawali Bontang Tekankan Perubahan Pola Kerja ASN, Srikandi Jadi Instrumen Percepatan Birokrasi

×

Wawali Bontang Tekankan Perubahan Pola Kerja ASN, Srikandi Jadi Instrumen Percepatan Birokrasi

Sebarkan artikel ini
Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris saat memberi sambutan. Lia Abdullah/Nius

NIUS.id – Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, menegaskan pentingnya perubahan pola kerja aparatur sipil negara (ASN) dalam menghadapi era digital.

Hal itu disampaikannya saat membuka kegiatan Sosialisasi dan Optimalisasi Aplikasi Sistem Informasi Kearsipan Dinamis Terintegrasi (Srikandi) yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) di Hotel Grand Mutiara, Selasa (19/5/2026).

Menurut Agus Haris, transformasi digital di lingkungan pemerintahan tidak hanya soal penggunaan teknologi, tetapi juga perubahan mindset birokrasi agar lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan pelayanan publik.

Ia menilai, penerapan aplikasi Srikandi menjadi salah satu langkah konkret dalam mempercepat proses administrasi sekaligus memangkas rantai birokrasi yang selama ini dinilai panjang.

“Digitalisasi ini bukan sekadar mengganti cara kerja, tetapi bagaimana kita bisa melayani lebih cepat dan tepat. Sistem seperti Srikandi harus dimanfaatkan maksimal oleh seluruh perangkat daerah,” ujarnya.

Agus Haris juga menekankan bahwa data dan arsip memiliki peran strategis dalam menentukan arah kebijakan pemerintah. Karena itu, pengelolaan arsip yang tertib dan terintegrasi menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Ia meminta seluruh jajaran, mulai dari tingkat kelurahan hingga organisasi perangkat daerah (OPD), untuk meninggalkan kebiasaan lama yang masih bergantung pada sistem manual.

“Ke depan tidak ada lagi alasan menggunakan cara lama. Semua harus beralih ke sistem digital agar pekerjaan lebih efisien dan akuntabel,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala DPK Bontang, Retno Febriaryanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman operator Srikandi, khususnya di tingkat kelurahan dan sekolah, agar mampu memanfaatkan fitur aplikasi secara optimal.

Ia menyebut, penggunaan Srikandi sebenarnya telah berjalan sejak 2025, namun masih terbatas pada fungsi dasar surat-menyurat. Melalui sosialisasi ini, peserta didorong untuk memahami pengelolaan arsip digital secara lebih komprehensif.

“Kami ingin memastikan seluruh operator tidak hanya bisa menggunakan, tetapi juga memahami standar pengelolaan arsip elektronik yang benar,” jelasnya.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan diikuti oleh 104 peserta yang terdiri dari pengelola arsip serta admin Srikandi di lingkungan kelurahan dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) sekolah. Selain materi, peserta juga mendapatkan sesi praktik langsung penggunaan aplikasi.

Laporan Wartawan NIUS.id, Lia Abdullah

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *