BalikpapanEKONOMIKALTIMNEWS

Kemarau Tekan Pasokan Pangan Balikpapan, Cabai dan Ikan Layang Melambung

×

Kemarau Tekan Pasokan Pangan Balikpapan, Cabai dan Ikan Layang Melambung

Sebarkan artikel ini
Cabai rawit dan ikan layang menjadi dua komoditas yang paling terasa kenaikannya. Kenaikan juga terjadi pada kacang panjang, jagung manis hingga ketimun. Foto/Istimewa

NIUS.id – Kemarau mulai terasa sampai ke meja makan warga Balikpapan. Pasokan sejumlah bahan pangan menipis, sementara harga beberapa komoditas perlahan naik.

Cabai rawit dan ikan layang menjadi dua komoditas yang paling terasa kenaikannya. Kenaikan juga terjadi pada kacang panjang, jagung manis hingga ketimun.

Untuk komoditas hortikultura, kondisi tanah yang mulai mengering membuat produksi petani lokal menurun. Pasokan dari luar daerah, terutama Jawa dan Sulawesi, juga tidak sepenuhnya lancar akibat cuaca buruk di wilayah asal.

Sementara untuk ikan layang, persoalannya datang dari laut. Gelombang tinggi membuat nelayan kesulitan melaut. Di saat yang sama, periode panen ikan pelagis kecil pada triwulan III 2026 mulai memasuki penghujung.

Akibatnya, hasil tangkapan menurun dan pasokan ikan layang ikut mengetat.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan tekanan harga pangan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi tahunan Balikpapan hingga 3,79 persen.

“Penyumbang inflasi terbesar memang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau,” kata Robi, Kamis, 3 September 2026.

Namun, ada paradoks dalam perkembangan harga Balikpapan pada periode tersebut.

Di tengah sejumlah bahan pangan yang mengalami kenaikan, secara bulanan Balikpapan justru mencatat deflasi tipis sebesar 0,03 persen.

Salah satu penahannya berasal dari kelompok transportasi.

Ketika harga cabai dan ikan layang bergerak naik, tarif angkutan udara dan harga bahan bakar justru mengalami penurunan.

Harga avtur di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan tercatat turun menjadi Rp21.825 per liter. Penurunan tersebut turut memberi ruang bagi tarif penerbangan untuk bergerak lebih rendah.

Di jalan raya, harga Pertamax RON 92 juga turun dari Rp16.650 menjadi Rp16.300 per liter.

Kelompok transportasi kemudian memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,26 persen, sehingga mampu menahan tekanan kenaikan harga dari kelompok makanan.

Tekanan pangan juga tidak terjadi pada seluruh komoditas. Beberapa bahan justru mengalami penurunan harga karena pasokan melimpah.

Bawang merah dan tomat, misalnya, berada dalam kondisi relatif murah karena pasokan dari Jawa dan Sulawesi meningkat seiring berlangsungnya panen raya. Kangkung lokal juga tersedia dalam jumlah cukup banyak.

Kondisi tersebut membuat pergerakan harga di Balikpapan menjadi tidak seragam. Sebagian bahan pangan naik akibat pasokan yang terganggu, sementara komoditas lain justru turun karena produksi dan distribusinya relatif lancar.

Pemerintah daerah bersama BI melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan intervensi untuk menjaga pasokan dan mengendalikan harga.

Pasar murah dan Gerakan Pangan Murah (GPM) digelar untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.

Di sisi pasokan, kerja sama antardaerah (KAD) juga diperkuat untuk menjaga kelancaran distribusi komoditas dari Jawa dan Sulawesi.

Langkah tersebut menjadi penting di tengah kondisi cuaca yang masih berpotensi mengganggu produksi dan distribusi pangan. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *