NIUS.id – Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kalimantan Timur yang juga Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang, H. Ahmad Aznem, SE., M.Si., mengajak kader IPM untuk mengambil peran strategis dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan Kalimantan Timur di tengah percepatan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pesan tersebut disampaikan Ahmad Aznem saat menjadi narasumber dalam Talkshow Musyawarah Wilayah (Musywil) IPM Kalimantan Timur yang digelar di Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Jumat (12/6/2026).
Di hadapan ratusan kader, pengurus, dan alumni IPM dari berbagai daerah di Kalimantan Timur, Ahmad Aznem menegaskan bahwa pembangunan IKN harus menjadi momentum bagi generasi muda untuk meningkatkan kapasitas diri dan memperkuat kontribusi terhadap pembangunan daerah.
Menurutnya, Kalimantan Timur saat ini berada di persimpangan penting sejarah pembangunan. Di satu sisi, daerah ini mendapatkan peluang besar melalui pembangunan IKN, namun di sisi lain masih dihadapkan pada sejumlah persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian serius.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai “Trio Tantangan Kaltim”, yakni krisis ekologis akibat dampak ekonomi ekstraktif masa lalu, tingginya angka pengangguran terbuka, serta kebutuhan percepatan pembangunan sumber daya manusia agar mampu bersaing di era IKN.
“Hari ini kita dihadapkan pada tiga rapor merah yang membutuhkan solusi cepat dan tepat. Pertama krisis ekologis, kedua krisis sosial berupa pengangguran yang masih tinggi, dan ketiga akselerasi pembangunan sumber daya manusia untuk mengejar laju perkembangan Ibu Kota Nusantara,” ujar Ahmad Aznem.
Ia mengingatkan bahwa pembangunan IKN tidak otomatis memberikan manfaat apabila kualitas sumber daya manusia lokal tidak mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman dan perkembangan ekonomi baru yang akan tumbuh di Kalimantan Timur.
Menurutnya, generasi muda harus mampu meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan membangun karakter kepemimpinan agar tidak hanya menjadi penonton di tengah perubahan besar yang sedang berlangsung.
“Geliat pembangunan IKN adalah peluang besar. Namun jika kita tidak siap dan kualitas SDM kita tidak sesuai dengan kebutuhan yang berkembang, maka kita berisiko hanya menjadi penonton di daerah sendiri,” katanya.
Meski demikian, Ahmad Aznem optimistis kader dan alumni IPM memiliki modal sosial, intelektual, serta jaringan yang kuat untuk menjawab tantangan tersebut. Ia menilai IPM memiliki tradisi kaderisasi yang mampu melahirkan generasi muda berintegritas, kritis, dan berorientasi pada solusi.
Dalam kesempatan itu, Ahmad Aznem juga memperkenalkan manifesto gerakan yang diberi nama “IPM Memanggil”. Menurutnya, manifesto tersebut merupakan ajakan kepada seluruh kader dan alumni untuk berperan aktif dalam pembangunan masyarakat, persyarikatan, dan bangsa.
“IPM Memanggil bukan sekadar slogan. Ini adalah panggilan kesadaran untuk bergerak bersama, mengambil peran, dan menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, kader IPM harus tampil sebagai pelopor perubahan yang mampu menghadirkan gagasan, inovasi, dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Sebagai tokoh yang aktif dalam dunia birokrasi dan pembinaan generasi muda, Ahmad Aznem berharap Musywil IPM Kalimantan Timur 2026 dapat melahirkan gagasan-gagasan strategis serta kepemimpinan baru yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Ia juga mengajak seluruh kader untuk menjadikan forum Musywil sebagai momentum memperkuat konsolidasi organisasi, meningkatkan kapasitas kader, dan memperluas kontribusi IPM dalam pembangunan daerah maupun nasional.
“Selamat bermusyawarah. Jadikan forum ini sebagai ruang melahirkan gagasan besar dan kader-kader terbaik yang siap membangun Kalimantan Timur, Nusantara, dan Indonesia di masa depan,” pungkas Ahmad Aznem. (*/Zk)



