NIUS.id – Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menyebut persoalan sanitasi masih menjadi faktor utama tingginya angka stunting di wilayah pesisir.
Karena itu, Pemerintah Kota Bontang tidak hanya fokus menurunkan prevalensi stunting, tetapi juga menangani wasting dan underweight melalui perbaikan gizi serta akses sanitasi dan air bersih.
Menurut Neni, stunting menjadi perhatian utama pemerintah karena berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Di sisi lain, kasus wasting (anak kurus akibat gizi kurang) dan underweight (berat badan di bawah standar) juga terus ditangani secara bersamaan.
“Stunting kita selesaikan, kemudian wasting juga kita selesaikan, termasuk underweight. Itu semua berkaitan dengan masalah gizi dan sanitasi,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, tingginya angka stunting di kawasan pesisir bukan semata-mata disebabkan kurangnya konsumsi pangan bergizi. Berdasarkan pengamatannya, masyarakat pesisir justru telah terbiasa mengonsumsi ikan. Namun, kondisi sanitasi yang belum memadai masih menjadi persoalan.
“Kalau makanan saya lihat sudah bagus. Yang menjadi masalah itu sanitasi, seperti akses jamban dan air bersih. Kalau sanitasinya kurang baik tentu akan berpengaruh,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Bontang terus memperluas jaringan air bersih ke wilayah pesisir. Neni mengatakan sebagian besar kawasan pesisir sudah terlayani jaringan PDAM, sementara beberapa wilayah lainnya ditargetkan memperoleh layanan pada tahun depan.
Ia mengakui perluasan layanan air bersih sempat terkendala kemampuan anggaran daerah yang diproyeksikan menurun. Meski demikian, pemerintah tetap menjadikan penyediaan akses air bersih sebagai prioritas, termasuk memanfaatkan fasilitas desalinasi yang telah tersedia di beberapa kawasan.
Menanggapi anggapan bahwa masyarakat pesisir lebih memilih menjual ikan berkualitas baik daripada mengonsumsinya sendiri, Neni menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, masyarakat pesisir umumnya telah mengonsumsi ikan dengan baik, bahkan sebagian tinggal di kawasan penyangga perusahaan yang juga mendapat dukungan program sosial.
“Kalau saya lihat mereka makan ikan. Masalahnya lebih kepada perilaku hidup bersih dan sanitasi, misalnya buang air besar sembarangan yang kemudian berdampak pada kesehatan,” jelasnya.
Neni menambahkan, upaya yang dilakukan pemerintah mulai menunjukkan hasil. Prevalensi stunting di Bontang berhasil ditekan dari sekitar 17 persen menjadi 14,5 persen. Ia menargetkan angka tersebut dapat turun hingga satu digit pada tahun depan.
“Turun dari 17 menjadi 14,5 persen itu sudah kemajuan yang luar biasa. Target saya tahun depan bisa satu digit. Tapi membangun itu tidak semudah membalik telapak tangan, semua perlu proses,” pungkasnya.
Laporan Wartawan NIUS.id, Lia Abdullah



