NIUS.id – Masyarakat Bontang Kuala memiliki cara berbeda dalam menyambut Hari Raya Iduladha. Di tengah tradisi kurban yang identik di berbagai daerah, warga di kawasan pesisir ini masih mempertahankan budaya masiara takbiran, tradisi turun-temurun yang dilakukan dengan berkeliling dari rumah ke rumah sambil melantunkan takbir.
Tradisi tersebut bukan hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan sosial antarwarga yang telah berlangsung sejak lama.
Pemuda Bontang Kuala, Agung Nugrah, mengatakan masiara takbiran masih rutin digelar setiap malam takbiran Iduladha di seluruh kawasan Bontang Kuala.
“Takbiran keliling atau masiara takbiran ini memang salah satu budaya yang ada di Bontang Kuala,” ujarnya.
Menurutnya, dari total sembilan RT di Bontang Kuala, setiap wilayah biasanya membentuk dua hingga tiga kelompok takbiran. Masing-masing kelompok dipimpin satu orang yang mengatur jalannya rombongan selama berkeliling.
Suasana malam takbiran juga semakin terasa karena masyarakat yang dikunjungi ikut menyambut kedatangan rombongan.
“Ada yang menyiapkan makanan, ada juga yang hanya menyiapkan bingkisan sesuai kesanggupan pemilik rumah,” katanya.
Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, mengaku terkesan setelah melihat langsung jalannya tradisi tersebut. Menurutnya, budaya yang masih bertahan itu memiliki nilai silaturahmi yang kuat.
“Ini luar biasa. Pertama mempererat silaturahmi masyarakat Bontang Kuala dan juga memperkuat persaudaraan,” ujarnya.
Ia menyebut hal yang paling menarik ialah antusiasme warga yang menyambut rombongan takbir. Bahkan rumah yang disambangi menyiapkan suguhan maupun bingkisan meski tidak ada kewajiban tertentu.
Pembagian kelompok juga dilakukan agar warga yang menerima kunjungan tidak kewalahan melayani rombongan.
“Kalau satu rombongan terlalu banyak, kasihan yang punya rumah. Makanya dibagi beberapa kelompok,” katanya.
Ardiansyah menilai tradisi tersebut perlu terus dipertahankan karena sudah diwariskan dari generasi sebelumnya dan menjadi identitas masyarakat Bontang Kuala.
“Ini tradisi yang sudah mengakar. Kita harus lestarikan,” pungkasnya. (AJ)



