BontangKALTIMNEWS

Wayang Sinema “Cahya Pustaka” Siap Hidupkan Festival Literasi 2026 Bontang

×

Wayang Sinema “Cahya Pustaka” Siap Hidupkan Festival Literasi 2026 Bontang

Sebarkan artikel ini
Festival Literasi 2026 Kota Bontang. Foto/Istimewa

NIUS.id – Festival Literasi 2026 Kota Bontang tak hanya menjadi ajang memperkenalkan gerakan membaca dan karya literasi. Tahun ini, unsur seni dan budaya turut dihadirkan melalui pertunjukan Wayang Sinema “Cahya Pustaka” yang akan digelar Kamis (13/8/2026) mendatang.

Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Literasi 2026 yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Bontang di Aula DPK, Jalan HM Ardans, Kelurahan Satimpo, Bontang Selatan.

Festival Literasi 2026 dijadwalkan dibuka Kamis pagi. Kegiatan ini mempertemukan komunitas literasi, seni, sastra, serta perpustakaan dari berbagai wilayah di Kota Bontang untuk memperkenalkan karya sekaligus aktivitas mereka kepada masyarakat.

Wayang Sinema “Cahya Pustaka” menjadi salah satu pertunjukan yang menawarkan konsep berbeda. Karya garapan Komunitas Sastra Badra bersama Lurah Satimpo, Maryono, tersebut menggabungkan wayang kulit teatrikal dengan teknologi digital, musik tradisional dan modern, serta dialog yang diperankan sejumlah pengisi suara.

Konsep pertunjukan juga berbeda dari wayang pada umumnya. Jika biasanya seluruh tokoh dimainkan seorang dalang, Wayang Sinema melibatkan sejumlah pemain yang menggerakkan tokoh dari balik layar. Setiap karakter juga memiliki pengisi suara berbeda sehingga cerita terasa lebih dinamis.

Sutradara sekaligus penggarap Wayang Sinema, Ragil Riawan, menyebut konsep tersebut sengaja dikembangkan untuk mendekatkan kesenian wayang kepada generasi muda, khususnya Gen Z dan Generasi Alfa.

“Konsepnya memang kami buat agar anak muda tertarik dan mencintai wayang. Kemasan boleh modern, tetapi sumber dan ruh tradisinya tetap kami jaga,” ujar Ragil.

Lakon “Cahya Pustaka” sendiri mengangkat persoalan literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Cerita berlatar Negeri Karawiyata, ketika buku mulai ditinggalkan dan perpustakaan semakin sepi. Dalam kisah tersebut, muncul Denawa Gulung sebagai simbol kemalasan membaca dan Denawa Gawai yang menggambarkan banjir informasi tanpa kepastian kebenaran.

Tokoh Jaka Aksara bersama Dewi Pustaka dan para punakawan literasi, yakni SemarADATA, PetrukARSIP, GarengAI, dan BagongGEL, kemudian berupaya menjaga cahaya pengetahuan agar tidak padam.

Meski dikemas dengan pendekatan modern, unsur tradisi tetap menjadi bagian penting dalam pertunjukan. Salah satunya melalui penggunaan tembang atau suluh wayang purwa dengan lirik yang disesuaikan dengan alur cerita.

Selain pertunjukan tersebut, Festival Literasi 2026 juga menghadirkan puluhan tenant dari komunitas dan perpustakaan se-Kota Bontang. Masyarakat dapat melihat langsung berbagai karya, program, dan kegiatan yang selama ini dijalankan untuk mendorong budaya literasi di daerah.

Kehadiran Wayang Sinema “Cahya Pustaka” diharapkan menjadi cara baru memperkenalkan pesan literasi sekaligus menjaga kesenian tradisional tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Laporan Wartawan NIUS.id, Lia Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *