BontangKALTIMKESEHATANNEWS

Lapas Bontang Gunakan Rontgen Keliling untuk Deteksi TBC, Tiga Kasus Telah Positif

×

Lapas Bontang Gunakan Rontgen Keliling untuk Deteksi TBC, Tiga Kasus Telah Positif

Sebarkan artikel ini
Lapas Bontang Gunakan Rontgen Keliling untuk Deteksi TBC, Tiga Kasus Telah Positif
Skrining tersebut digelar Dinas Kesehatan Kota Bontang bersama Lapas Kelas IIA Bontang di Jalan Prestasi, Kelurahan Bontang Lestari, dengan dukungan Kementerian Kesehatan. Foto/Istimewa

NIUS.id – Deteksi tuberkulosis (TBC) di Lapas Kelas IIA Bontang diperluas melalui pemeriksaan gejala, rontgen dada menggunakan X-Ray Portable, dan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program yang menyasar warga binaan serta petugas lapas itu resmi dibuka Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Selasa (20/10/2026).

Skrining tersebut digelar Dinas Kesehatan Kota Bontang bersama Lapas Kelas IIA Bontang di Jalan Prestasi, Kelurahan Bontang Lestari, dengan dukungan Kementerian Kesehatan yang membawa perangkat rontgen keliling.

Kepala Dinas Kesehatan Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, menyebut penanganan TBC merupakan salah satu program prioritas nasional dengan target Indonesia bebas TBC pada 2030.

Menurutnya, pemeriksaan di lapas menjadi bagian dari upaya menemukan kasus lebih cepat, memperluas akses diagnosis, dan mencegah penularan di lingkungan pemasyarakatan.

Data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mencatat, hingga Triwulan III 2026 terdapat 48 orang di Lapas Kelas IIA Bontang yang diduga mengalami TBC. Dari jumlah itu, tiga orang telah dipastikan positif dan kini menjalani pengobatan.

Neni menegaskan, akses layanan kesehatan harus terbuka bagi semua orang, termasuk warga binaan. Pemeriksaan dini dinilai penting agar penyakit dapat diketahui dan ditangani lebih cepat.

“Pemeriksaan ini penting agar penyakit cepat ketahuan. Apalagi TBC menular lewat udara,” kata Neni.

Di Bontang, program skrining TBC terintegrasi CKG mendapat alokasi 73 titik pemeriksaan. Sebanyak 29 titik dilengkapi pendampingan X-Ray Portable, sedangkan 44 titik lainnya melakukan pemeriksaan berdasarkan gejala. Lapas Kelas IIA Bontang menjadi titik pertama di kota itu yang mendapat layanan rontgen keliling.

Dinas Kesehatan juga menerima satu unit X-Ray Portable dan lima alat tes molekuler cepat yang akan digunakan puskesmas untuk mendukung deteksi dan diagnosis TBC.

Data dalam kegiatan itu turut menunjukkan keberhasilan pengobatan TBC di Bontang berada di kisaran 94 persen. Pemerintah kota berupaya meningkatkan capaian tersebut melalui perluasan skrining, penemuan kasus secara aktif, serta pendampingan pasien hingga pengobatan selesai.

Tantangan pelayanan kesehatan di lapas juga terlihat dari jumlah penghuninya. Lapas Kelas IIA Bontang saat ini menampung 1.814 orang, jauh di atas kapasitas 594 orang.

Dalam kesempatan itu, Neni turut meminta agar pembinaan mental, spiritual, keagamaan, dan karakter warga binaan diperkuat.

Kepala Lapas Kelas IIA Bontang, Agus Wiyono, menyambut baik dukungan pemerintah kota karena membantu membuka akses pemeriksaan, pengobatan, hingga rujukan ke rumah sakit bagi warga binaan.

“Kami ingin mereka pulang ke keluarga sebagai orang yang lebih baik, mandiri, dan tidak mengulangi kesalahan,” ujar Agus.

Selain layanan kesehatan, pihak lapas menjalankan pembinaan kepribadian dan kemandirian, mulai dari kegiatan keagamaan hingga pelatihan keterampilan sebagai bekal setelah bebas. Ketua Komite I DPD RI Andi Sofyan Hasdam juga mendorong penguatan pelatihan dan peluang usaha agar warga binaan dapat mandiri secara ekonomi ketika kembali ke masyarakat.

Usai pembukaan, Neni bersama rombongan meninjau Klinik Pratama Lapas Kelas IIA Bontang untuk melihat fasilitas kesehatan yang melayani warga binaan. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *