KALTIMKESEHATANNEWSSamarinda

ISPU Samarinda Tembus 317, Kasus ISPA Capai 12.819 dalam Sebulan

×

ISPU Samarinda Tembus 317, Kasus ISPA Capai 12.819 dalam Sebulan

Sebarkan artikel ini
Ispa
Ilustrasi

NIUS.id – Warga Samarinda diminta mengurangi aktivitas di luar rumah setelah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 317 atau masuk kategori berbahaya, Rabu (21/10/2026) siang.

Di tengah kabut asap karhutla yang masih menyelimuti kota, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) juga terus meningkat, dengan 12.819 kasus tercatat sepanjang September.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan angka ISPU tersebut tercatat di Stasiun Pemantauan Labkesda Kalimantan Timur pada pukul 13.00 Wita. Partikel halus PM2.5 menjadi polutan yang paling dominan.

PM2.5 merupakan partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup. Pada tingkat ISPU di atas 300, kualitas udara masuk kategori berbahaya dan berisiko mengganggu kesehatan masyarakat secara luas.

“Warga sebaiknya tidak beraktivitas di luar ruangan dulu,” kata Ismed.

Imbauan tersebut disampaikan ketika tren kasus ISPA di Samarinda terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Data Diskes mencatat 8.610 kasus pada Juli, naik menjadi 10.681 kasus pada Agustus, lalu mencapai 12.819 kasus pada September.

Dalam dua bulan, jumlah kasus bertambah 4.209 atau sekitar 49 persen dibandingkan Juli.

Tren tersebut masih berlanjut memasuki Oktober. Selama periode 1–19 Oktober, tercatat 8.193 kasus ISPA. Angka ini belum mencakup satu bulan penuh, tetapi menunjukkan tingginya jumlah kasus yang dilaporkan pada awal bulan.

Berdasarkan data periode tersebut, kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Samarinda Utara dengan 1.528 kasus, disusul Sungai Kunjang sebanyak 1.236 kasus dan Samarinda Ulu sebanyak 1.083 kasus. Sementara itu, Samarinda Kota mencatat jumlah terendah, yakni 195 kasus.

Meski peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan memburuknya kualitas udara, angka tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus ISPA disebabkan oleh paparan asap karhutla. Namun, kondisi udara yang tercemar menjadi perhatian karena partikel halus dapat memperburuk gangguan pernapasan.

Ismed mengatakan sumber asap masih menjadi persoalan. Hingga 19 Oktober, tercatat 297 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 723,75 hektare.

Dalam dua pekan terakhir, muncul 48 kejadian kebakaran baru dengan luas lahan terdampak 96,77 hektare. Sebelumnya, kualitas udara Samarinda juga sempat berada dalam kategori tidak sehat pada 12–17 Oktober.

“Asap ini juga berdampak ke kesehatan warga,” ujarnya.

Kondisi cuaca kering turut memperpanjang tantangan penanganan karhutla. Pemerintah Kota Samarinda kembali memperpanjang status tanggap darurat kekeringan untuk keempat kalinya melalui Surat Keputusan Wali Kota Nomor 300.2.3/322/HK-KS/X/2026.

Status tersebut berlaku selama 28 hari, mulai 20 Oktober hingga 16 November 2026.

Dalam keputusan itu, pemerintah mencatat kondisi El Niño yang menguat, dengan indeks mencapai +3,08, naik dari sebelumnya +2,70. Fenomena ini berkaitan dengan berkurangnya curah hujan, sementara musim hujan diperkirakan baru mulai pada pertengahan November 2026.

Samarinda juga telah mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan dan masuk kategori ekstrem. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan air serta potensi kebakaran lahan yang dapat memperburuk pencemaran udara.

Menghadapi situasi tersebut, Diskes meminta anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung untuk lebih membatasi paparan udara luar.

Masyarakat yang terpaksa keluar rumah juga diimbau mengurangi aktivitas fisik dan membatasi waktu di luar ruangan selama kualitas udara masih berada pada kategori berbahaya.

“Selama udara masih berbahaya, kurangi dulu kegiatan di luar,” tutup Ismed. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *