NIUS.id – Sisa cahaya jingga masih menggantung tipis di ufuk barat. Satu per satu bintang mulai tampak di antara langit malam yang turun perlahan, malu-malu menutup senja ketika saya tiba di sebuah kafe di sudut Kota Bontang.
Dari halaman depan, lampu-lampu kuning yang menggantung di area terbuka kafe itu terlihat remang. Cahayanya tidak terlalu terang, tetapi cukup untuk membuat suasana malam terasa hangat. Beberapa kendaraan terparkir di tepi jalan, sementara suara percakapan terdengar samar dari dalam.
Baru beberapa langkah masuk, seorang pria berkaus hitam berjalan ke arah pintu keluar.
Kami berpapasan.
“Sebentar ya, ada urusan sedikit.”
Rambutnya tersisir rapi ke belakang. Celana panjang gelap yang dikenakannya membuat penampilannya tampak sederhana, tetapi terawat. Ada kesan parlente yang tidak dibuat-buat.
Saya terus melangkah masuk ke area duduk berniat untuk menunggunya. Kerikil di bawah pijakan berderak pelan, aroma kopi mulai tercium di udara terbuka.
Beberapa meja telah terisi. Sejumlah pengunjung duduk berjauhan, membiarkan malam berkembang tenang. Dari arah bar, suara mesin kopi sesekali terdengar, memecah pelan suasana yang masih lengang.
Beberapa menit kemudian ia kembali, kami duduk di kursi yang saling berlawanan.
Pelayan datang membawa segelas americano dingin. Embunnya perlahan turun di sisi gelas. Sebungkus Sampoerna dikeluarkan dari saku celana. Sebatang rokok diketuk pelan, lalu dinyalakan.
Asap pertama naik ke udara.
Malam pun dimulai.
Pemuda di depan saya itu bernama Adip Maraja. Ia lahir dan tumbuh di Bontang dalam keluarga Bugis Enrekang yang tidak mengenal tradisi nama belakang sebagai penanda garis keturunan.
Maraja adalah nama yang diberikan sang ayah. Dalam pemahaman yang ia terima dari kampung halamannya, Maraja berarti besar.
“Mungkin ada pesan dari orangtua. Saya juga tidak tahu pasti.”
Nama itu kemudian ia bawa sepanjang hidup. Bukan hanya melekat pada dirinya, tetapi juga menjadi nama perusahaan yang kelak ia dirikan.
Dia cukup dikenal di kalangan pelaku usaha kota ini. Banyak orang mengenalnya sebagai kontraktor.
Namun malam itu cerita ini tidak dibuka dari proyek, perusahaan, atau jabatan.
Ia memulainya dari kekosongan.
“Saya tidak punya uang.”
Kalimat itu meluncur pelan.
Sulit membayangkan lelaki yang duduk di hadapan saya ini pernah tidak memiliki rupiah sama sekali.
Ayahnya, Aris, dikenal sebagai salah satu pelopor usaha agen BBM di Bontang pada masa ketika SPBU belum berdiri seperti sekarang. Solar dan bensin didistribusikan secara sederhana. Nama sang ayah cukup dikenal pada zamannya.
Banyak orang mengira anak pengusaha tumbuh dari kemudahan.
Tetapi dia tidak mewarisi itu.
Ayahnya meninggal pada 1994 ketika ia masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Ibunya, Zubeda, meninggal pada 2012. Tidak ada perusahaan yang diwariskan. Tidak ada modal usaha yang menunggu untuk dilanjutkan.
Yang tertinggal hanya cerita tentang seorang ayah yang pernah berdagang dan keyakinan bahwa suatu hari dirinya juga akan menjadi pengusaha.
“Saya percaya garis tangan saya memang pengusaha.”
Kalimat itu beberapa kali ia ulang malam itu.
Seolah keyakinan tersebut menjadi satu-satunya warisan yang benar-benar ia miliki.
Tahun 2005, ia berangkat ke Makassar untuk melanjutkan pendidikan. Jauh dari rumah, jauh dari keluarga, ia memasuki fase hidup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kondisi ekonomi keluarga mulai menurun. Orang tua sakit. Biaya hidup semakin berat.
Ia menjaga warnet pada malam hari hingga subuh. Siang hari kuliah. Sore hari menerima pekerjaan memperbaiki komputer atau memasang jaringan.
Ada masa ketika semua pekerjaan itu tidak cukup.
Dompet kosong, uang habis, tempat tinggal dan makan ditanggung teman.
Selama hampir satu bulan ia hidup dari bantuan sahabat.
“Saya tahu rasanya.”
Pengalaman hidup di Makassar ternyata meninggalkan satu keyakinan yang tidak pernah berubah.
Ia tidak ingin menjadi karyawan.
Ketika kembali ke Bontang pada 2012, ia membawa pulang dua hal, yakni kemampuan di bidang komputer dan keyakinan bahwa dirinya harus menjadi pengusaha.
Ia bekerja sebagai teknisi warnet. Memperbaiki komputer. Memasang jaringan internet. Menerima pekerjaan dari beberapa instansi.
Uang yang terkumpul digunakan untuk membuka usaha pertama.
Sebuah bengkel motor yang hanya bertahan sekitar setahun.
Ia mencoba lagi.
Konter telepon genggam dan servis komputer.
Tutup.
Ia membuka kafe.
Kembali gagal.
Tiga usaha, tiga kegagalan.
Orang lain mungkin mulai mempertanyakan dirinya.
Tetapi Adip justru semakin yakin.
“Saya tidak pernah melamar kerja.”
Di atas meja, es dalam gelas americano mulai mencair.
Kafe perlahan terisi. Beberapa anak muda datang dan mengambil tempat di sudut lain. Suara obrolan mulai bercampur dengan musik pelan dari pengeras suara.
Malam bergerak. Cerita pun ikut bergerak.
Dirinya tidak dibentuk oleh keberhasilan. Masa-masa ketika hidup nyaris membuatnya menyerah mulai dibangun ulang.
Tahun demi tahun berlalu. Ia terus menggali potensi yang ada dengan merambah ke dunia konstruksi dan mendirikan CV Maraja, 2016 silam.
Menyusul CV Bamba Puang beberapa tahun kemudian dan PT Teknik Nusantara Kaltim pada 2025.
Selama hampir dua jam percakapan malam itu, Adip lebih sering bercerita tentang saat tersulitnya dibandingkan keberhasilan yang didapat hari ini.
Kafe yang semula lengang kini penuh.
Suara live music mulai memenuhi ruangan terbuka itu. Gelak tawa terdengar dari beberapa meja, gelas americano-nya hanya menyisakan es yang hampir seluruhnya mencair.
Puntung rokok terakhir telah padam.
Adip berdiri lebih dulu.
Kami saling berpamitan. Dan saya akhirnya memahami satu hal.
Barangkali di situlah seluruh cerita malam itu sebenarnya berada. Adip Maraja mungkin berkali-kali jatuh dalam hidupnya, tetapi ia tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Orangtuanya mungkin telah lebih dahulu pergi. Namun hidup seolah terus mengirimkan orang-orang yang enggan membiarkannya jatuh terlalu dalam.
Sahabat, istri, anak-anak, dan teman-teman yang datang pada waktu yang tepat.
Sebelum berpisah, ia meninggalkan satu kalimat yang terdengar sederhana, tetapi mungkin menjadi ringkasan seluruh perjalanan hidupnya.
“Jangan pernah putus asa. Jatuh bangun itu modal utama untuk berkembang, bukan untuk menyerah. Kita tidak pernah tahu di mana letak rezeki kita. Jadi teruslah bergerak sampai kita menemukan kemampuan terbaik dalam diri kita.”



