ADVERTORIALBontangKALTIMKESEHATANPemerintah

Dorong Peran Lurah dan TJSL, Pemkot Bontang Targetkan Penurunan Stunting Lebih Agresif

×

Dorong Peran Lurah dan TJSL, Pemkot Bontang Targetkan Penurunan Stunting Lebih Agresif

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni. Lia Abdullah/Nius

NIUS.id – Pemerintah Kota Bontang mendorong keterlibatan aktif seluruh kelurahan dalam upaya percepatan penurunan stunting dengan memaksimalkan kolaborasi lintas sektor, termasuk perusahaan melalui program tanggung jawab sosial lingkungan (TJSL).

Ia menilai penanganan stunting tidak cukup jika hanya mengandalkan sektor kesehatan, melainkan harus menjadi gerakan bersama hingga tingkat RT.

Menurutnya, setiap wilayah harus memiliki data yang akurat sekaligus langkah konkret dalam menangani anak-anak yang terdampak stunting.

“Pendekatannya harus lebih detail. Setiap lurah wajib punya data by name by address dan memastikan ada penanganan nyata di lapangan,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan dunia usaha di Bontang yang dinilai memiliki potensi besar dalam membantu intervensi stunting melalui program TJSL.

“Kita punya banyak perusahaan besar. Ini harus dimanfaatkan sebagai kekuatan bersama untuk membantu pemenuhan gizi dan pendampingan keluarga,” katanya.

Berdasarkan data yang dipaparkan, jumlah balita stunting di Bontang masih mencapai 1.489 anak yang tersebar di seluruh kelurahan. Loktuan tercatat sebagai wilayah dengan jumlah tertinggi, disusul Tanjung Laut dan Tanjung Laut Indah.

Sementara itu, Bontang Lestari menjadi wilayah dengan prevalensi tertinggi yang mencapai 22,71 persen, meskipun jumlah kasusnya berada di bawah Loktuan.

Neni menekankan, angka tersebut seharusnya dapat ditekan lebih cepat mengingat jumlah kasus di tiap kelurahan relatif masih dalam skala yang bisa ditangani secara terfokus.

“Kalau tiap kelurahan bergerak serius, angka ini sebenarnya bisa ditekan lebih cepat. Kuncinya ada pada keseriusan pendampingan di tingkat bawah,” tegasnya.

Ia mencontohkan Kelurahan Guntung yang dinilai memiliki peluang besar untuk menuntaskan kasus stunting lebih cepat karena berada di sekitar kawasan industri.

“Wilayah yang dekat dengan perusahaan seharusnya bisa lebih cepat menuntaskan kasus, karena dukungan sumber daya lebih terbuka,” imbuhnya.

Meski demikian, Pemkot Bontang mencatat tren positif penurunan angka stunting sepanjang 2025. Dari sebelumnya sekitar 20 persen pada 2024, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 17 persen.

Bahkan, pada periode tertentu di 2025, prevalensi stunting sempat turun hingga di bawah 16 persen seiring intervensi yang dilakukan secara intensif.

“Trennya sudah menurun, tapi kita tidak boleh puas. Targetnya harus terus ditekan hingga mencapai angka yang lebih ideal,” pungkasnya.

Laporan Wartawan NIUS.id, Lia Abdullah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *