NIUS.id – Warga Sangatta Utara, Kutai Timur, mulai gerah dengan aktivitas truk pengangkut tanah galian C yang melintas di Jalan APT Pranoto tanpa penutup muatan.
Truk-truk itu mengangkut tanah uruk dari wilayah Sangatta Selatan dan hilir-mudik hingga ke ring road. Aktivitasnya paling terasa pada siang hingga sore hari—saat cuaca panas membuat debu makin pekat di sepanjang jalan.
Masalahnya, sebagian besar truk tidak menggunakan terpal. Akibatnya, tanah yang diangkut kerap berjatuhan ke badan jalan, sementara debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
Maghfur, warga setempat, mengaku kondisi ini sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Setiap siang pasti berdebu kalau truk itu lewat,” ujarnya, Minggu (19/4).
Menurutnya, jumlah truk yang melintas tidak sedikit. Dalam sehari, puluhan kendaraan keluar-masuk di jalur tersebut, hampir tanpa jeda.
Keluhan serupa datang dari Yusril, pengemudi ojek online. Ia menilai kondisi ini bukan hanya mengganggu, tapi juga membahayakan pengguna jalan.
“Sudah panas, ditambah debu. Itu berbahaya untuk pengendara,” katanya.
Padahal, aturan sudah jelas. Dinas Perhubungan Kutai Timur sebelumnya telah memasang spanduk imbauan yang mewajibkan setiap truk menggunakan terpal penutup. Pelanggaran bahkan bisa dikenai sanksi tilang.
Namun di lapangan, aturan itu seolah tak bertaring. Truk tanpa penutup masih bebas melintas.
Warga pun mendesak aparat terkait untuk tidak sekadar memasang imbauan, tetapi benar-benar turun melakukan penertiban.
“Aturannya sudah ada. Tinggal ditegakkan,” tegas Yusril. (*/Zk)



