EKONOMIKALTIMNEWSSamarinda

Kredit Kaltim Melonjak 22,8 Persen, tapi Dana Simpanan Justru Turun

×

Kredit Kaltim Melonjak 22,8 Persen, tapi Dana Simpanan Justru Turun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

NIUS.id – Kredit perbankan di Kalimantan Timur tumbuh 22,80 persen secara tahunan pada kuartal II 2026 hingga mencapai Rp223,17 triliun. Namun, pertumbuhan pembiayaan itu belum diikuti peningkatan dana masyarakat yang dihimpun perbankan.

Dana pihak ketiga (DPK) justru turun 2,69 persen menjadi Rp154,48 triliun.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, mengatakan pertumbuhan kredit terutama ditopang kredit modal kerja dan kredit investasi.

Kredit modal kerja tumbuh 42,30 persen secara tahunan pada Juli 2026, mencapai Rp87,16 triliun. Sementara kredit investasi meningkat 22,41 persen menjadi Rp101,83 triliun.

“Modal kerja menjadi mesin utama di balik kencangnya laju kredit Kaltim,” ujar Bayuadi dalam paparannya, Senin (21/9/2026).

Dari sisi sektor ekonomi, pertumbuhan kredit paling tinggi terjadi pada sektor pertambangan yang mencapai 63,50 persen secara tahunan.

Pertumbuhan juga terjadi pada industri pengolahan sebesar 43,70 persen, konstruksi 25,46 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 23,25 persen.

Data tersebut menunjukkan pembiayaan perbankan masih banyak mengalir ke sektor-sektor yang menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi Kaltim, mulai dari pertambangan dan pengolahan hingga konstruksi serta logistik.

Di sisi lain, penghimpunan dana masyarakat masih menghadapi tekanan. Giro turun 5,36 persen menjadi Rp42,16 triliun, sedangkan deposito turun 12,33 persen menjadi Rp37,16 triliun.

Tabungan menjadi satu-satunya komponen DPK yang masih tumbuh, yakni 2,74 persen menjadi Rp75,01 triliun. Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu menutup penurunan giro dan deposito.

Kondisi itu membuat rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan Kaltim berada di level 144,47 persen.

Tingginya LDR menunjukkan penyaluran kredit tumbuh jauh lebih cepat dibandingkan dana pihak ketiga yang dihimpun perbankan. Kondisi tersebut membuat pengelolaan likuiditas menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan seiring berlanjutnya ekspansi kredit.

Meski kredit tumbuh cukup tinggi, kualitas pembiayaan masih relatif terjaga. Rasio non-performing loan (NPL) Kaltim tercatat 1,35 persen.

Di sektor pertambangan, NPL berada di level 0,44 persen. Sementara NPL industri pengolahan tercatat 0,25 persen.

Dua sektor yang mencatat pertumbuhan kredit tinggi tersebut masih menunjukkan tingkat kredit bermasalah yang relatif rendah.

Ke depan, perkembangan kredit dan penghimpunan dana masyarakat menjadi dua indikator yang perlu terus dicermati. Permintaan pembiayaan dari sektor pertambangan, industri pengolahan, konstruksi dan sektor lainnya masih berpotensi meningkat seiring aktivitas ekonomi dan investasi di Kaltim.

Di sisi lain, kemampuan perbankan memenuhi kebutuhan kredit akan turut dipengaruhi oleh pemulihan penghimpunan dana masyarakat, terutama ketika pertumbuhan kredit bergerak lebih cepat dibandingkan pertumbuhan DPK. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *