NIUS.id – Pembangunan kolam retensi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ampal diharapkan menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di Balikpapan. Selain berfungsi menampung air hujan, kawasan tersebut nantinya juga akan dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, mengatakan kolam retensi dirancang untuk mengendapkan air hujan sebelum dialirkan ke saluran utama. Langkah itu dilakukan agar kapasitas saluran di DAS Ampal tidak langsung terbebani saat curah hujan tinggi, khususnya di kawasan MT Haryono.
“Untuk mengendapkan air supaya tidak langsung, kalau pun hujan, tidak langsung dialirkan ke saluran normal. Karena saluran itu punya daya tampung, sehingga kita endapkan sehari agar saluran yang ada di DAS Ampal bisa menampung air hujan yang ada di sekitar MT Haryono,” ujarnya saat meninjau lokasi proyek, Selasa (7/7/2026).
Menurut Bagus, pembangunan kolam retensi ditargetkan selesai pada Desember 2026. Namun, proses pengerjaannya saat ini baru mencapai sekitar 12 persen karena sebagian lahan masih dalam proses penyelesaian.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Balikpapan sebelumnya telah mengalokasikan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp6 miliar untuk mendukung pekerjaan awal melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). Tahapan tersebut berjalan lancar, tetapi saat pekerjaan dilanjutkan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS), muncul klaim atas sebagian lahan proyek.
“Padahal kita kemarin ke sini, kemudian kegiatan yang diberikan Rp6 miliar ya, ada TMMD. Itu Rp6 miliar kita berikan dari dana BTT. Tidak ada masalah, selesai urusannya. Tetapi giliran sudah dikerjakan oleh pihak BWS, ternyata ada pihak yang mengklaim tanah tersebut,” katanya.
Bagus berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui komunikasi dan musyawarah. Menurutnya, pemerintah siap memfasilitasi apabila diperlukan agar pembangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan masyarakat bisa terus berjalan.
“Kalau memang merasa ada yang dirugikan, ya silakan menggugat. Tapi kalau diam-diam saja, tidak akan pernah selesai. Kalau pun mau difasilitasi, silakan komunikasi dengan pihak lurah atau camat setempat,” ujarnya.
Ia menegaskan keberadaan kolam retensi sangat penting untuk mendukung penanganan banjir di kawasan DAS Ampal, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah hilir.
“Karena ini adalah hajat hidup warga Kota Balikpapan yang ada di daerah hilir. Kalau ini tidak selesai, berarti penanganan banjir di DAS Ampal pun akan menjadi masalah,” tegasnya.
Bagus menyebut total luas lahan proyek mencapai sekitar 9,8 hektare. Dari luas tersebut, sekitar 1,4 hektare masih menjadi objek klaim sehingga area yang saat ini dapat dikerjakan sekitar 8,6 hektare.
Ke depan, kolam retensi tidak hanya difungsikan sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga akan dilengkapi ruang terbuka hijau, area memancing, jalur jogging, pintu air, serta turap yang lebih besar dan lebih rapi dibandingkan fasilitas serupa di Wonorejo.
“Nanti ada ruang terbuka hijau, orang bisa memancing, orang bisa berwisata, jogging. Jadi ini selain untuk menampung air hujan, juga bisa dipakai untuk kita berwisata bersama keluarga,” jelasnya.
Pemerintah Kota Balikpapan berharap proses penyelesaian lahan dapat segera menemukan solusi sehingga pembangunan kolam retensi dapat diselesaikan sesuai target dan manfaatnya segera dirasakan masyarakat. (Adv Diskominfo Balikpapan)
Laporan Wartawan NIUS.id, SR



