EKONOMINEWS

Perputaran Uang Mudik Bisa Tembus Rp161 Triliun, Kadin Percaya Ekonomi Menguat

×

Perputaran Uang Mudik Bisa Tembus Rp161 Triliun, Kadin Percaya Ekonomi Menguat

Sebarkan artikel ini
Para calon penumpang menunggu bus yang akan mengangkut mereka menuju kampung halaman menjelang libur Idul Fitri 1447 Hijriah sekaligus menandai berakhirnya bulan suci puasa Ramadan, di terminal Terminal Kalideres, Jakarta, Rabu 18 Maret 2026. Puncak arus mudik Lebaran di Terminal Kalideres, Jakarta Barat, terlihat pada Rabu (18/3/2026). (AP Photo/Dita Alangkara)

NIUS.id – Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I-2026 bisa menyentuh kisaran 5,4% hingga 5,5%. Dorongannya datang dari satu momentum yang selalu kuat tiap tahun: lonjakan konsumsi masyarakat saat Lebaran.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, menyebut belanja masyarakat selama Idulfitri tahun ini diperkirakan naik sekitar 10–15%. Pemicunya kombinasi klasik—mulai dari pencairan THR hingga berbagai stimulus dari pemerintah.

“Perputaran uang selama Lebaran dengan konsumsi rumah tangga yang meningkat itu bisa jadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi kuartal pertama,” kata Sarman, Kamis (19/3/2026).

Ia memperkirakan total uang yang beredar selama periode Lebaran tahun ini bisa mencapai Rp148 triliun, bahkan berpotensi naik hingga Rp161 triliun. Perhitungan itu didasarkan pada proyeksi sekitar 143 juta pemudik, atau setara 35,9 juta keluarga, dengan rata-rata membawa uang Rp4,12 juta sampai Rp4,5 juta per keluarga.

Uang tersebut tak hanya berputar di kota-kota besar, tapi justru mengalir ke daerah tujuan mudik seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga wilayah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Dampaknya terasa luas—mulai dari transportasi, BBM, bengkel, sampai pelaku UMKM dan sektor wisata.

“Selama di kampung halaman, belanja masyarakat juga menggerakkan ekonomi lokal. UMKM dan destinasi wisata biasanya ikut menikmati lonjakan omzet,” ujarnya.

Di sisi lain, Sarman mengingatkan pentingnya menjaga pasokan energi agar momentum konsumsi ini tidak terganggu. Stabilitas distribusi BBM dan gas, menurutnya, jadi kunci menjaga kepercayaan masyarakat, apalagi di tengah isu ketidakpastian global.

Dampak ekonomi dari tradisi mudik juga disorot Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS). Lembaga ini memprediksi perputaran uang selama Ramadan dan Lebaran 2026 bisa jauh lebih besar, mencapai Rp347,67 triliun dalam skenario moderat, bahkan hingga Rp417,20 triliun dalam skenario optimistis.

Peneliti IDEAS, Agung Pardini, menyebut mudik bukan sekadar tradisi sosial, tapi juga peristiwa ekonomi besar yang terjadi dalam waktu singkat.

“Mobilitas masyarakat yang tinggi dalam periode singkat itu langsung mendorong konsumsi di banyak sektor,” ujarnya.

Menurutnya, partisipasi mudik juga sangat dipengaruhi kondisi ekonomi. Kelompok berpendapatan lebih tinggi cenderung lebih besar kemungkinannya untuk mudik dibanding kelompok bawah.

Sementara itu, Kementerian Perhubungan memperkirakan sekitar 143,9 juta orang akan melakukan perjalanan selama musim mudik Lebaran 2026.

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, mengatakan angka tersebut memang sedikit lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pemerintah tetap mengantisipasi potensi lonjakan di lapangan.

Ia menilai periode mudik tahun ini bisa berlangsung lebih panjang, terutama karena adanya fleksibilitas kerja (FWA) dan libur yang cukup panjang.

“Kami tetap memperkirakan pergerakan masyarakat bisa mendekati realisasi tahun lalu,” ujarnya.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan matang dan menghindari puncak arus mudik maupun balik, agar distribusi pergerakan lebih merata dan perjalanan tetap aman. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *