BontangGAYA HIDUPNEWSUTAMA

Janji Laut Bontang Kuala

×

Janji Laut Bontang Kuala

Sebarkan artikel ini
Prosesi Tampung Tawar dalam Pesta Laut Bontang Kuala, Rabu (17/12/2025). (FOTO: LABIB)
Prosesi Tampung Tawar dalam Pesta Laut Bontang Kuala, Rabu (17/12/2025). (FOTO: LABIB)

NIUS.id – Sore di Bontang Kuala, prosesi sakral selesai, kampung di atas air itu belum juga tenang. Gemuruh langkah kaki di atas papan kayu ulin justru semakin ramai.

Suara kapal sesekali terdengar geram pelan dengan mesin yang berat, bunyi air terbelah di buritan. Layang-layang beterbangan, aroma jajanan bercampur asin laut mengisi udara.

Saat-saat bahagia inilah yang menjadi momentum perjanjian antara warga Bontang Kuala dengan laut untuk tidak saling lupa setiap tahunnya.

Pesta Laut, paling mudah dipahami bukan lewat definisi, tetapi lewat denyut kehidupan yang terasa nyata.

Bukan sekadar festival. Ia adalah cara mengucap syukur, memohon keselamatan, sekaligus menjaga hubungan tak kasatmata antara manusia pesisir dan alam yang memberi hidup.

Laut diperlakukan bukan sebagai objek, melainkan sebagai ruang yang dihormati. Ia dirawat baik oleh tetua adat.

Pesta Laut adalah warisan. Di sinilah generasi muda melihat langsung tradisi yang selama ini hanya terdengar dari cerita orang tua.

Di balik makna itu, Pesta Laut juga adalah kerja besar yang melelahkan. Tradisi tidak berdiri sendiri, ia dihidupkan oleh manusia-manusia yang mengatur waktu, tempat, dan ritme. Salah satunya Agung Anugrah, Ketua Panitia Pesta Laut Bontang Kuala.

Agung tampak berdiri di tepi jembatan kayu, tubuhnya condong sedikit ke depan. Bajunya basah oleh keringat. Wajahnya memerah, garis lelah jelas tergambar di bawah mata.

Peluh menetes dari pelipisnya, namun pandangannya tetap menyapu lokasi acara, memastikan keramaian tetap terkendali.

“Ini tradisi orang tua kami. Kalau salah urut, salah makna,” ucapnya lirih, di sela napas yang belum sepenuhnya pulih. Suaranya parau, seolah membawa sisa teriakan memberi arahan sejak pagi, Rabu (17/12/2025).

Tampung Tawar

Keramaian sore hari menjadi bukti, Pesta Laut masih relevan. Agung terus bercerita sesekali tertawa, sesekali menatap laut, seolah memastikan hubungan itu tetap terjaga.

“Ada beberapa prosesi sakral yang dilakukan dalam pembukaan Pesta Laut, salah satunya adalah Tampung Tawar,” kata Agung.

Tampung Tawar adalah inti dari Pesta Laut, bukan sekadar prosesi pembuka. Ritual ini, kata dia, menjadi cara warga Bontang Kuala menata niat sebelum memasuki ruang perayaan dan sebelum kembali “berurusan” dengan laut.

Air dipercikkan, simbol pembersihan bukan hanya tubuh, tetapi juga pikiran dan hubungan sosial di dalam kampung.

Tampung tawar menjadi bahasa untuk meminta izin, menurunkan ego manusia, dan menegaskan bahwa warga datang ke laut sebagai pihak yang bergantung, bukan sebagai penguasa.

“Kalau orang luar lihat, mungkin ini hanya air dipercikkan,” katanya pelan.

Saat tampung tawar dilakukan, semua orang berada pada posisi simbolik yang sama tanpa jabatan, tanpa peran.

Matahari mulai turun dan cahaya sore memantul lembut di permukaan laut, Pesta Laut belum berakhir. Ia baru dimulai. Dan di Bontang Kuala, semua orang tahu, selama laut masih menjadi nadi kehidupan, Pesta Laut akan terus diadakan sebagai pengingat siapa mereka, dan dari mana mereka berasal.

“Kita semua sama, nelayan, panitia, pejabat, tamu undangan dan warga melebur dalam satu niat untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam,” tutup Agung.

Liputan Wartawan NIUS.id, Zuajie

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *