NIUS.id – Meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak di sejumlah daerah di Kalimantan Timur mendapat sorotan serius dari Komisi IV DPRD Kaltim. Fenomena ini dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan mencerminkan lemahnya ketahanan psikososial dalam lingkungan keluarga yang belum tertangani secara menyeluruh.
Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, H. Baba, mengungkapkan keprihatinannya atas sejumlah laporan kekerasan yang justru melibatkan orang tua sebagai pelaku. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi indikator adanya persoalan mendasar terkait kesehatan mental dan kemampuan pengasuhan dalam keluarga.
“Ini bukan persoalan sepele. Ada masalah-masalah tersembunyi yang belum terjangkau oleh sistem pencegahan yang ada saat ini,” ujarnya, Rabu (17/12/25).
Ia menilai, tindakan kekerasan ekstrem terhadap anak, bahkan hingga menghilangkan nyawa, harus dipahami sebagai sinyal darurat lemahnya deteksi dini terhadap persoalan psikologis di dalam rumah tangga. Berbagai faktor seperti tekanan ekonomi, konflik keluarga, serta pola asuh yang tidak adaptif disebut saling berkaitan dan memperparah situasi.
Baba juga menyoroti pola penanganan kasus yang selama ini lebih menitikberatkan pada aspek hukum. Menurutnya, pendekatan tersebut belum cukup karena aspek psikologis, baik terhadap korban maupun pelaku, kerap luput dari perhatian.
“Banyak orang tua belum memiliki kemampuan mengelola emosi dan menghadapi tekanan dalam pengasuhan anak. Padahal, sebagian dari mereka sebenarnya membutuhkan pendampingan profesional sejak awal,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterbatasan akses layanan kesehatan mental, khususnya bagi keluarga rentan, turut menjadi hambatan dalam upaya pencegahan kekerasan anak. Oleh karena itu, Komisi IV DPRD Kaltim mendorong penguatan deteksi dini masalah psikososial melalui peran aktif pemerintah, tenaga kesehatan, serta lembaga sosial di tingkat komunitas.
Selain itu, edukasi tentang pola asuh yang lebih manusiawi dan sesuai dengan perkembangan psikologi anak juga dinilai perlu diperluas. Baba menegaskan bahwa pendekatan pengasuhan keras yang diwariskan dari generasi sebelumnya sudah tidak relevan dengan tantangan keluarga masa kini.
“Masalahnya bukan hanya pada anak, tetapi pada kesiapan dan pemahaman orang tua dalam menjalankan peran pengasuhan,” pungkasnya. (*)



