NIUS.id – Upaya pemerataan pembangunan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menunjukkan hasil nyata. Salah satunya tampak di Kecamatan Batu Ampar, di mana jaringan listrik tengah dibangun untuk mewujudkan pasokan listrik 24 jam bagi ribuan warga.
Camat Batu Ampar, Suriansyah Mutul, mengawal langsung proses ini. Ia memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, mulai dari pengiriman material hingga keamanan jalur pemasangan di pedalaman.
“Alhamdulillah, progresnya sudah signifikan. Saat ini pengiriman material seperti tiang listrik dan truk cor tiang (mixer) sedang dalam perjalanan dari Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara, menuju Batu Ampar,” ungkap Suriansyah, belum lama ini.
Menurutnya, pengiriman material dilakukan dengan pengawalan ketat oleh aparat TNI dan Polri untuk memastikan keamanan di jalur lintas hutan dan perbukitan. Jalur jaringan listrik ini membentang sepanjang 4,5 kilometer dari Kecamatan Muara Bengkal menuju Batu Ampar, melewati Desa Mawai Indah, Mugi Rahayu, dan Beno Harapan.
“Sekitar 5.000 jiwa akan menerima manfaat langsung dari sambungan listrik ini,” jelasnya.
Suriansyah juga menuturkan, proses pembangunan mendapat dukungan penuh dari sejumlah perusahaan sekitar, seperti PT Telen, PT Mahakam Persada Sakti, dan PT Permata Hijau Katulistiwa. Bentuk dukungan itu antara lain membantu pembersihan jalur dan penebangan pohon yang dilalui instalasi kabel listrik.
“Perusahaan sudah menyatakan siap mendukung. Mereka hanya meminta panduan dan penandaan dari pihak PLN dan kecamatan agar pekerjaan bisa langsung dilaksanakan,” tambahnya.
Tahapan pekerjaan direncanakan rampung secara bertahap. Pemasangan tiang listrik ditargetkan selesai pada Desember 2025, sementara penarikan kabel dilakukan pada Januari 2026. Bila tidak ada kendala berarti, masyarakat Batu Ampar dapat menikmati listrik PLN 24 jam penuh menjelang Idulfitri 2026.
Bagi Suriansyah, proyek ini bukan sekadar infrastruktur, tetapi wujud nyata pemerataan pembangunan hingga wilayah terjauh.
“Terang yang akan hadir ini bukan hanya soal listrik, tapi simbol kemajuan dan keadilan pembangunan. Kami ingin warga Batu Ampar benar-benar merasakan hasil dari kerja pemerintah,” tegasnya.
Antusiasme masyarakat semakin terasa. Rasmani (42), warga Desa Mugi Rahayu, mengaku sangat menantikan saat rumahnya tak lagi bergantung pada genset.
“Selama ini kami harus hemat solar, lampu sering dimatikan malam-malam. Kalau nanti listrik PLN masuk, anak-anak bisa belajar lebih nyaman,” ujarnya gembira.
Sementara Arifin (33), pemilik warung di Desa Beno Harapan, melihat proyek ini sebagai pintu pembuka bagi kemajuan ekonomi lokal.
“Kalau listrik sudah nyala 24 jam, usaha bisa berkembang. Bisa jual es, nyalain kulkas, tambah penghasilan,” tuturnya.
Dengan semangat kolaboratif antara pemerintah, PLN, aparat keamanan, dan masyarakat, Suriansyah Mutul optimistis Batu Ampar akan segera menikmati “terang pembangunan”.
“Insyaallah, sebelum Idulfitri tahun depan, Batu Ampar sudah terang. Ini hasil kerja bersama dan doa seluruh masyarakat,” pungkasnya penuh keyakinan.
Ketika lampu-lampu itu nanti menyala, Batu Ampar bukan lagi sekadar wilayah pedalaman — melainkan simbol bahwa cahaya pembangunan kini benar-benar menjangkau seluruh pelosok Kutai Timur. (*)



