BontangEKONOMIKALTIMNEWS

Bandara Sepi, Investasi Terancam? Pemkot Bontang Dorong Badak LNG Aktif Lagi

×

Bandara Sepi, Investasi Terancam? Pemkot Bontang Dorong Badak LNG Aktif Lagi

Sebarkan artikel ini
Bandara Badak LNG Bontang. Foto/Istimewa

NIUS.id – Aktivitas di Bandara Badak LNG Bontang yang lama terhenti kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kota. Sunyinya operasional bandara dinilai berdampak langsung terhadap daya tarik investasi di Kota Taman.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan bahwa keberadaan bandara bukan lagi sekadar fasilitas transportasi, melainkan faktor penting dalam menarik investor.

“Ketika investor datang, yang pertama mereka tanyakan adalah ketersediaan bandara,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, pola mobilitas pelaku usaha kini telah berubah. Akses cepat melalui jalur udara menjadi kebutuhan utama, terutama bagi investor kelas menengah ke atas yang mengandalkan efisiensi waktu.

Ia menyebut, perjalanan darat yang panjang mulai ditinggalkan karena dinilai tidak efektif. Kondisi ini membuat daerah tanpa bandara aktif berisiko kehilangan daya saing.

“Perjalanan darat yang panjang mulai dihindari,” jelasnya.

Selama ini, banyak tamu penting yang harus mendarat di Balikpapan atau Samarinda sebelum melanjutkan perjalanan darat menuju Bontang. Situasi tersebut dinilai menjadi hambatan tersendiri.

“Ini pengalaman yang sering terjadi. Tamu harus transit di kota lain terlebih dahulu,” katanya.

Melihat kondisi tersebut, Pemkot Bontang mulai bergerak. Neni menginstruksikan perangkat daerah terkait untuk melakukan komunikasi intensif dengan Kementerian Keuangan terkait rencana pengaktifan kembali Bandara Badak LNG.

Dari upaya tersebut, muncul sinyal positif. Pemerintah pusat disebut membuka peluang pembangunan kembali bandara dengan estimasi anggaran sekitar Rp32 miliar.

“Peluangnya ada. Tinggal bagaimana kita mengawal agar prosesnya berjalan,” ungkapnya.

Namun, waktu menjadi tantangan. Izin operasional bandara diketahui akan berakhir pada 2027. Pemerintah daerah pun menargetkan proses pembangunan dan pengaktifan kembali dapat rampung sebelum masa izin habis.

“Kalau bisa, semua sudah selesai sebelum masa izin berakhir, sehingga tidak perlu memulai dari awal,” tegasnya.

Rencana awal difokuskan pada perbaikan landasan pacu (runway), namun pemerintah juga menargetkan fungsi bandara dapat kembali optimal secara menyeluruh.

Bagi Neni, bandara adalah pintu masuk utama pertumbuhan ekonomi. Ketika akses terbuka, mobilitas meningkat, dan investasi pun akan mengikuti.

“Jika akses terbuka, mobilitas meningkat, dan ekonomi daerah akan ikut bergerak,” pungkasnya. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *