BontangKALTIMNEWS

Kajian Rampung, Rute Laut Bontang–Mamuju Siap Ditawarkan ke Investor

×

Kajian Rampung, Rute Laut Bontang–Mamuju Siap Ditawarkan ke Investor

Sebarkan artikel ini
Penumpang kapal tiba di Pelabuhan Loktuan. (Foto: Irwan/nius.id)
Sejumlah penumpang Kapal Pelni Bontang tiba di Pelabuhan Loktuan. (Foto: Irwan/nius.id)

NIUS.id – Akses antara Bontang dan Mamuju yang selama ini dikenal panjang dan mahal, tampaknya bakal punya alternatif baru. Pemerintah Kota Bontang tengah menyiapkan pembukaan jalur transportasi laut langsung yang diklaim cukup menjanjikan secara bisnis.

Yang menarik, proyek ini disebut-sebut bisa berjalan tanpa subsidi pemerintah—sesuatu yang jarang terjadi di sektor pelayaran.

Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, mengatakan kajian terkait rute tersebut sudah rampung dan menunjukkan hasil positif. Dalam waktu dekat, pemkot akan kembali menggelar rapat bersama Dinas Perhubungan untuk menindaklanjuti minat dari sejumlah operator kapal.

“Pekan ini kami rapat lagi untuk memastikan siapa saja yang berminat. Kajian dari pemerintah sudah selesai dan hasilnya cukup positif,” ujarnya.

Sejauh ini, komunikasi awal sudah dilakukan untuk menjaring calon operator, baik dari BUMN maupun swasta. Hasil kajian tersebut nantinya akan dipaparkan secara terbuka agar calonk investor bisa menilai langsung kelayakan rute Bontang–Mamuju.

Menurut Agus, nilai jual utama dari proyek ini ada pada hasil kajian yang menunjukkan potensi keuntungan, meski tanpa dukungan subsidi.

“Biasanya kendala utama di pelayaran itu soal subsidi. Tapi dari hasil kajian, rute ini tetap bisa berjalan secara bisnis. Ini yang jadi daya tarik,” katanya.

Di sektor transportasi laut, biaya operasional memang dikenal tinggi—mulai dari bahan bakar, perawatan kapal, hingga tenaga kerja. Karena itu, banyak rute bergantung pada subsidi pemerintah.

Namun, untuk rute ini, pemerintah menilai ada peluang berbeda.

Meski begitu, bukan berarti tanpa tantangan. Salah satu yang harus diantisipasi adalah perbedaan perhitungan antara pemerintah dan calon operator, terutama soal proyeksi penumpang, frekuensi pelayaran, hingga potensi keuntungan.

Jika tidak sejalan, skema kerja sama bisa saja berubah.

Di sisi lain, kesiapan armada dinilai bukan persoalan besar. Beberapa operator sudah mulai menunjukkan ketertarikan, termasuk ASDP Indonesia Ferry yang telah memiliki fasilitas pelabuhan di Mamuju.

Keunggulan infrastruktur ini dinilai bisa memangkas biaya awal dan mempercepat realisasi rute.

“Beberapa sudah kami hubungi, termasuk dari BUMN. Operator swasta juga ada yang mulai dilirik,” tambah Agus.

Jika terealisasi, jalur laut ini diharapkan bisa memangkas waktu tempuh sekaligus membuka peluang baru bagi mobilitas orang dan distribusi barang antara Kalimantan Timur dan Sulawesi Barat. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *