EKONOMINEWS

Tak Sekadar Harga, Ini Masalah Utama Petani Sawit di Lapangan

×

Tak Sekadar Harga, Ini Masalah Utama Petani Sawit di Lapangan

Sebarkan artikel ini
Seorang pekerja mengangkut cangkang sawit di atas rakit di sebuah perkebunan sawit. Foto: Istimewa

NIUS.id – Tantangan yang dihadapi petani sawit di berbagai daerah ternyata tidak hanya soal naik-turunnya harga komoditas.

Di lapangan, persoalan teknis justru sering jadi penentu hasil. Mulai dari bibit yang kurang berkualitas, pemupukan yang asal-asalan, hingga pengendalian hama yang belum optimal, semuanya berpengaruh langsung pada produktivitas kebun.

Selama ini, banyak praktik budidaya masih mengandalkan kebiasaan turun-temurun. Tanpa pendampingan yang memadai, keputusan di kebun kerap diambil berdasarkan pengalaman, bukan perhitungan teknis yang terukur.

Hal itu sempat dirasakan Indra Ayu Riantika, petani plasma di Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah. Ia mengaku dulu pemupukan dilakukan seadanya, tanpa takaran jelas, sementara panen hanya mengikuti kebiasaan lama.

Perubahan mulai terasa ketika ia dan petani lain masuk dalam pola kemitraan yang lebih terarah.

“Lewat kemitraan plasma dengan PT Sukses Karya Mandiri, kami benar-benar merasakan manfaatnya. Hasilnya sangat membantu ekonomi keluarga,” ujar Indra.

Pengetahuan yang didapat dari pendampingan itu bahkan bisa ia terapkan di kebun lain miliknya, sehingga hasil panen ikut meningkat.

Cerita serupa datang dari Muslimin, petani plasma di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Ia mengaku dulunya tidak memiliki pemahaman cukup soal cara merawat sawit.

Namun setelah mendapat pendampingan dari PT Anugerah Agung Prima Abadi, produktivitas kebunnya melonjak hingga 24,51 ton TBS per hektare per tahun.

“Dulu tidak tahu apa-apa. Sekarang dari kebun, saya bisa melihat harapan. Dengan pendampingan yang terus berjalan, hasilnya benar-benar terasa,” katanya.

Pendampingan terhadap petani plasma ini menjadi bagian dari pola kemitraan yang dijalankan Triputra Agro Persada melalui sejumlah anak usahanya di berbagai wilayah.

Pendekatannya tidak hanya mengejar hasil panen, tapi juga membangun kemampuan petani agar bisa mengelola kebun secara lebih baik dan berkelanjutan.

Selain itu, perusahaan juga menjalankan program Pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (PERKASA). Program ini fokus pada peningkatan pemahaman teknis—mulai dari pemilihan bibit, pemupukan yang tepat, hingga cara panen yang lebih optimal.

Sejak dimulai pada akhir 2024, pelatihan ini sudah menjangkau petani di puluhan desa di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Bagi petani, dampaknya bukan hanya terlihat dari hasil panen, tapi juga dari cara mereka memandang kebun sendiri.

Maijan, petani di Muaro Jambi, mengaku kini lebih percaya diri setelah mengikuti pelatihan.

“Dari pelatihan itu, saya jadi paham cara merawat kebun dengan benar. Pemupukan juga lebih terarah, dan hasilnya memang terbukti,” ujarnya.

Pendekatan pendampingan yang konsisten ini membuat hubungan antara perusahaan dan petani terasa lebih dekat. Di sisi lain, peningkatan kapasitas petani juga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan sektor perkebunan.

Ketika petani semakin paham cara mengelola kebun secara optimal, produktivitas ikut naik. Pada akhirnya, kesejahteraan keluarga pun terdorong, dan industri sawit bisa tumbuh lebih berkelanjutan. (*Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *