NIUS.id – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin pagi. Tekanan ini datang dari menguatnya dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Di awal sesi, rupiah tercatat turun tipis 12 poin atau 0,07 persen ke level Rp16.970 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.958.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan pelemahan ini tidak lepas dari meningkatnya sentimen risiko global yang membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.
“Ketidakpastian yang masih berlanjut terkait konflik di Timur Tengah turut menekan sentimen pasar,” ujarnya.
Situasi memanas setelah adanya laporan peningkatan skala serangan terhadap Iran oleh Amerika Serikat. Bahkan, Pentagon disebut telah mengerahkan tambahan pasukan ke kawasan tersebut. Kondisi ini membuat pasar global kembali gelisah, mengingat Timur Tengah merupakan salah satu pusat pasokan energi dunia.
Memanasnya situasi geopolitik juga berdampak langsung pada harga minyak dunia. Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga minyak Brent melonjak 2,67 persen ke level 103,14 dolar AS per barel.
Kenaikan ini memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang lain, termasuk rupiah. Logikanya sederhana: ketika risiko global naik, investor cenderung lari ke aset yang dianggap aman, salah satunya dolar.
Meski begitu, penguatan dolar sempat tertahan oleh data ekonomi AS yang kurang menggembirakan. Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal IV-2025 direvisi turun menjadi 0,7 persen dari sebelumnya 1,4 persen.
Menurut Josua, revisi ini memberi sinyal bahwa ekonomi AS mulai melambat.
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan inflasi di AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral Federal Reserve.
Data terbaru menunjukkan inflasi PCE turun tipis ke 2,8 persen secara tahunan. Namun di sisi lain, inflasi inti justru naik sedikit menjadi 3,1 persen.
Kondisi ini membuat pelaku pasar memilih untuk tidak buru-buru mengambil posisi.
“Investor cenderung wait and see, apalagi menjelang libur panjang di Indonesia,” kata Josua.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih akan terbatas di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Dengan kombinasi tekanan global dan sikap hati-hati investor, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan fluktuatif dalam jangka pendek. (*/Zk)



