NIUS.id – Pergerakan harga emas dunia kembali melemah di akhir pekan. Tekanan datang dari penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya kekhawatiran inflasi yang dipicu konflik di Iran.
Mengutip CNBC, Sabtu (14/3/2026), harga emas spot turun 0,5 persen ke level USD 5.052,15 per ounce. Jika ditarik sepekan, penurunannya bahkan sudah menembus lebih dari 2 persen—menandai pelemahan dua minggu berturut-turut.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April juga ikut terkoreksi, turun 1,3 persen ke posisi USD 5.061,70 per ounce.
Trader logam independen, Tai Wong, menilai tekanan terhadap emas saat ini cukup kuat. Menurut dia, meski prospek jangka panjang masih positif, harga emas sedang bergerak mendekati level terendah sejak konflik Iran memanas.
“Dolar yang menguat hingga mendekati level tertinggi dalam empat bulan terakhir membuat emas kehilangan daya tarik dalam jangka pendek,” ujarnya.
Penguatan dolar memang kerap menjadi “lawan alami” emas. Saat mata uang AS menguat, harga emas yang dipatok dalam dolar otomatis menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaannya cenderung turun.
Selain faktor geopolitik, kebijakan moneter juga ikut membebani pergerakan emas.
Dalam catatan Commerzbank, ekspektasi suku bunga tinggi menjadi salah satu penyebab utama pelemahan harga logam mulia ini.
Selama ini, emas dikenal sebagai aset lindung nilai saat inflasi tinggi atau kondisi ekonomi tidak pasti. Namun ketika suku bunga ikut naik, daya tarik emas justru berkurang karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Data ekonomi terbaru di Amerika Serikat menunjukkan belanja konsumen masih cukup kuat. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan Federal Reserve belum akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Ekspektasi tersebut semakin menekan ruang gerak harga emas.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi faktor yang sulit diabaikan.
Presiden AS Donald Trump bahkan sempat menyatakan bahwa Washington siap mengambil langkah keras terhadap Iran dalam waktu dekat.
Situasi ini sempat mendorong harga minyak global, meski pergerakannya masih fluktuatif akibat gangguan pasokan di kawasan Teluk.
Di sisi lain, aktivitas logistik mulai menunjukkan tanda pemulihan. Sejumlah penerbangan dari Dubai kembali beroperasi, yang berarti distribusi emas dari salah satu pusat perdagangan global itu mulai berjalan lagi, meski belum sepenuhnya normal.
Tak hanya emas, logam mulia lainnya juga ikut tertekan. Harga perak turun 3,3 persen ke USD 81,00 per ounce. Platinum melemah 4 persen ke USD 2.047,20, sementara palladium terkoreksi 2,5 persen menjadi USD 1.569,00 per ounce.
Melihat kondisi ini, pasar tampaknya masih akan bergerak hati-hati, menunggu kepastian arah kebijakan suku bunga sekaligus perkembangan konflik geopolitik dalam waktu dekat. (*/Zk)



