EKONOMINEWS

Tinggal di Wilayah Rawan Bencana, Mana Lebih Penting: Dana Darurat atau Asuransi?

×

Tinggal di Wilayah Rawan Bencana, Mana Lebih Penting: Dana Darurat atau Asuransi?

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi

NIUS.id – Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana, memiliki perlindungan finansial bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan. Namun, pertanyaannya: mana yang harus didahulukan—dana darurat atau asuransi?

Perencana keuangan Rista Zwestika menilai, banyak keluarga masih keliru dalam menentukan prioritas. Padahal, urutannya cukup jelas.

Menurut dia, dana darurat sebaiknya disiapkan terlebih dahulu sebelum memikirkan asuransi.

“Dana darurat itu fleksibel. Bisa dipakai untuk biaya hidup, relokasi, sampai kebutuhan medis saat kondisi genting,” ujarnya.

Idealnya, dana darurat yang dimiliki keluarga setara 6 hingga 12 bulan pengeluaran. Setelah itu, barulah perlindungan bisa dilengkapi dengan asuransi properti, khususnya yang mencakup risiko bencana alam.

Jika sudah, perlindungan tambahan seperti asuransi kendaraan bisa menyusul. Sementara investasi jangka panjang ditempatkan di tahap berikutnya.

Meski begitu, bukan berarti asuransi selalu harus belakangan. Dalam kondisi tertentu, asuransi justru bisa diprioritaskan lebih dulu.

Misalnya, ketika rumah masih dalam skema KPR—biasanya pihak bank memang mewajibkan adanya asuransi. Selain itu, masyarakat yang tinggal di zona risiko sangat tinggi juga bisa mempertimbangkan untuk langsung memiliki asuransi.

“Kalau nilai asetnya besar, sementara tabungan belum cukup, asuransi bisa jadi pelindung awal,” jelas Rista.

Dalam situasi seperti ini, strategi yang disarankan adalah kombinasi—membangun dana darurat secara bertahap sambil memiliki perlindungan dasar.

Rista juga menyoroti kesalahan umum masyarakat di daerah rawan bencana: tidak punya dana darurat sekaligus tidak memiliki asuransi.

Akibatnya, saat bencana terjadi, banyak yang panik karena tidak punya bantalan finansial.

“Di wilayah rawan bencana, likuiditas itu jauh lebih penting daripada gaya hidup,” tegasnya.

Perencana keuangan Mike Rini menambahkan, dana darurat dan asuransi sebenarnya punya fungsi yang berbeda.

Dana darurat digunakan untuk menjaga arus kas—terutama saat kehilangan penghasilan. Sementara asuransi berfungsi melindungi aset dari kerusakan besar.

“Dana darurat bisa langsung dipakai kapan saja. Kalau asuransi, ada proses klaim,” jelasnya.

Karena itu, kemampuan finansial menjadi faktor penentu. Untuk masyarakat berpenghasilan rendah, dana darurat harus jadi prioritas utama.

Kelompok ini umumnya lebih rentan kehilangan pekerjaan dibandingkan mengalami kerusakan aset besar. Apalagi, banyak yang masih tinggal di rumah sewa.

Sebaliknya, bagi masyarakat dengan penghasilan lebih tinggi, strategi bisa lebih fleksibel—bahkan bisa langsung menggabungkan dana darurat dan asuransi.

Premi asuransi sendiri umumnya sekitar 1 persen dari nilai properti per tahun.

Secara umum, ada gambaran sederhana yang bisa diikuti:

  • Penghasilan rendah: fokus kumpulkan dana darurat dulu (minimal 6 kali pengeluaran)
  • Kelas menengah: mulai asuransi saat dana darurat mencapai 3 kali pengeluaran
  • Penghasilan tinggi: bisa langsung kombinasikan dana darurat, asuransi, dan investasi

Perencana keuangan independen Andy Nugroho menilai, kombinasi dana darurat dan asuransi adalah skenario terbaik.

Menurutnya, dana darurat bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari pascabencana, sementara asuransi membantu menutup kerugian besar yang tidak mampu ditanggung tabungan.

“Kalau dua-duanya ada, pemulihan akan jauh lebih cepat,” katanya.

Ia juga menyarankan menyisihkan sekitar 10 persen penghasilan setiap bulan untuk membangun dana darurat.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Reasuransi Maipark Indonesia, Kocu Andre Hutagalung, menegaskan bahwa asuransi bencana alam merupakan bentuk proteksi yang semakin penting, terutama di negara seperti Indonesia.

Ia mengingatkan, banyak polis asuransi rumah standar belum otomatis mencakup risiko bencana seperti gempa atau banjir. Masyarakat perlu secara aktif menambahkan perlindungan tersebut.

“Rumah sering jadi aset terbesar. Tanpa perlindungan, kerugian bisa terjadi dalam hitungan detik,” ujarnya.

Indonesia sendiri termasuk negara dengan tingkat kerentanan bencana tinggi di dunia, seiring posisinya di kawasan cincin api (ring of fire).

Karena itu, kombinasi antara dana darurat dan asuransi bukan hanya soal pilihan finansial, tapi juga strategi bertahan menghadapi risiko yang nyata. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *