NIUS.id – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Bontang, berdiri satu bangunan bersejarah yang menjadi penanda awal pemerintahan modern di wilayah ini. Kantor Camat Pertama Bontang, yang dibangun pada tahun 1923 oleh Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa kolonial Belanda, kini menjadi salah satu warisan budaya yang masih dipertahankan.
Sejarah Awal Pemerintahan
Sebelum bangunan itu berdiri, pada tahun 1920, Desa Bontang telah ditetapkan sebagai ibu kota kecamatan yang kala itu disebut Onder Distrik van Bontang. Pemimpinnya adalah seorang asisten wedana yang bergelar Kiai, perwakilan resmi Kesultanan Kutai Kartanegara.
Sekretaris Lembaga Adat Bontang, Sanusi, menjelaskan bahwa eksistensi kantor tersebut menandai peralihan tata kelola pemerintahan tradisional menuju struktur yang lebih modern pada masa itu.
“Bangunan ini bukan sekadar kantor pemerintahan, tetapi simbol perubahan sosial di Bontang. Pada masa itu, jabatan Kiai memegang peranan penting sebagai penghubung antara Kesultanan Kutai Kartanegara dan masyarakat,” ungkap Sanusi.
Ia menambahkan, sejumlah Kiai pernah memimpin wilayah tersebut, termasuk Kiai Anang Kempeng, Kiai Hasan, Kiai Aji Raden, Kiai Anang Acil, Kiai Menong, Kiai Yaman, hingga Kiai Saleh.
Arsitektur Tradisional yang Masih Terjaga
Bangunan kantor camat pertama ini menggunakan kayu ulin sebagai struktur utamanya, mengikuti gaya arsitektur khas Kalimantan tempo dulu. Denahnya berbentuk persegi panjang dengan beberapa ruangan, seperti ruang tamu, dua kamar, ruang tengah, serta kamar mandi. Pada bagian depan terdapat jembatan kayu kecil yang dulu menjadi akses utama menuju gedung.
Sanusi menyebut, meski beberapa bagian sudah mengalami penurunan kondisi, nilai sejarahnya tetap tidak hilang.
“Dulu bagian belakang bangunan memiliki kolam penampungan air. Masyarakat menyebutnya tempayan besar. Sekarang sudah tidak berfungsi, tapi itu menunjukkan bagaimana teknologi lokal di masa lampau digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Perubahan Administratif Hingga Pasca Kemerdekaan
Pada masa Sultan Aji Muhammad Parikesit, Bontang berada di bawah struktur pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara melalui asisten wedana. Setelah Indonesia merdeka dan keluarnya UU No. 27 Tahun 1959, struktur swapraja dihapus, termasuk di Kutai, sehingga Bontang resmi menjadi kecamatan administratif modern.
Menurut Sanusi, fase ini menjadi titik penting transformasi pemerintahan lokal.
“Setelah status swapraja dihapus, peran kantor camat semakin strategis dalam membentuk identitas wilayah. Bangunan ini ikut menjadi saksi perkembangan administrasi Bontang hingga akhirnya menjadi kota industri seperti sekarang,” tambahnya.
Kini Jadi Warisan Budaya dan Destinasi Wisata
Saat ini, bangunan Kantor Camat Pertama Bontang dijadikan bagian dari atraksi wisata budaya Bontang Kuala. Dengan arsitektur kayu yang masih orisinal, lokasi tersebut menjadi sarana edukasi sejarah bagi masyarakat.
Sanusi berharap pemerintah terus menjaga dan merawat peninggalan tersebut.
“Ini bukan hanya bangunan tua. Ini adalah memori kolektif masyarakat Bontang. Kalau kita menjaga sejarahnya, kita menjaga identitas kita,” tegasnya.



