NIUS.id – Harga emas sempat melonjak tajam setelah memanasnya konflik di Timur Tengah. Namun, kenaikan itu tidak bertahan lama.
Pada 28 Februari, harga emas naik dari 5.296 dollar AS menjadi 5.423 dollar AS per troy ounce, atau setara sekitar Rp91,45 juta dengan asumsi kurs Rp16.888 per dollar AS. Satu troy ounce sendiri setara dengan 31,1 gram.
Kenaikan ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, investor biasanya mencari aset aman, dan emas menjadi salah satu pilihan utama.
Namun, euforia itu cepat mereda. Tak lama setelah lonjakan, tekanan jual mulai muncul di pasar. Pada 3 Maret, harga emas turun lebih dari 6 persen ke level 5.085 dollar AS per troy ounce, atau sekitar Rp85,88 juta.
Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan harga emas cenderung stagnan. Harganya bergerak di kisaran 5.050 hingga 5.200 dollar AS per troy ounce. Terakhir, harga spot tercatat di sekitar 5.175 dollar AS atau setara Rp87,38 juta per troy ounce.
Sejumlah faktor disebut menjadi penahan laju kenaikan emas. Penguatan dollar AS serta naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat investor mulai melirik instrumen yang memberikan bunga.
CEO Metals Daily, Ross Norman, menilai kondisi ini membuat daya tarik emas sedikit berkurang. Apalagi, emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak turut memicu kekhawatiran inflasi. Jika inflasi meningkat, bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga—yang biasanya berdampak negatif terhadap harga emas.
“Pergerakan harga emas dan perak terlihat lesu saat ini, tapi mungkin itu wajar setelah lonjakan besar dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Norman.
Ia juga menambahkan, sebagian investor institusi kini mulai lebih berhati-hati memegang emas batangan karena volatilitas yang tinggi.
Hal senada disampaikan Amer Halawi dari Al Ramz. Ia melihat dinamika likuiditas pasar turut memengaruhi harga emas. Ketika pasar tertekan, investor cenderung menjual berbagai aset, termasuk emas, untuk menutup kebutuhan likuiditas.
“Dalam kondisi krisis likuiditas, semua aset bisa dijual. Setelah itu, barulah pasar kembali mencari keseimbangan,” ujarnya.
Menurut Halawi, pola seperti ini bukan hal baru. Saat terjadi guncangan besar, emas memang bisa ikut tertekan lebih dulu sebelum akhirnya kembali menguat.
Meski pergerakan jangka pendek masih fluktuatif, sejumlah bank investasi tetap optimistis terhadap prospek emas ke depan. JP Morgan, misalnya, memproyeksikan harga emas bisa mencapai 6.300 dollar AS per troy ounce pada akhir 2026.
Sementara itu, Deutsche Bank mempertahankan target di level 6.000 dollar AS per troy ounce hingga akhir tahun. (*/Zk)



