NIUS.id – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) dalam menekan jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan data Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen RI, angka ATS di Kutim mengalami penurunan signifikan.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, mengungkapkan bahwa jumlah ATS yang sebelumnya tercatat sebanyak 12.802 anak, kini turun menjadi sekitar 9.000 anak.
“Alhamdulillah, dengan upaya keras bersama, hasilnya mulai terlihat. Data Pusdatin Kemendikdasmen per September lalu menunjukkan penurunan sekitar 4.000 anak tidak sekolah,” ujar Mulyono di Sangatta, Rabu (29/10/2025).
Ia menjelaskan, berdasarkan data awal Pusdatin Kemendikdasmen, dari 12.802 anak tersebut terdiri atas 9.463 anak belum pernah bersekolah, 1.451 anak telah lulus namun tidak melanjutkan, serta 1.888 anak yang tercatat drop out dari sekolah.
Tingginya angka itu sebelumnya sempat menempatkan Kutai Timur sebagai salah satu daerah dengan jumlah ATS tertinggi di Indonesia. Karena itu, Disdikbud Kutim segera melakukan pendataan mandiri guna memastikan keakuratan data di lapangan.
“Kami bergerak cepat melakukan pendataan by name by address dan validasi lintas sektor. Dari hasil itu, diperoleh data yang lebih akurat dan bisa digunakan untuk intervensi langsung,” jelas Mulyono.
Meskipun angka ATS berhasil ditekan, Mulyono menegaskan bahwa pekerjaan ini belum selesai. Saat ini, masih ada sekitar 9 ribu anak yang belum kembali ke bangku pendidikan, dan pihaknya menargetkan angka itu kembali turun secara bertahap.
“Kami optimistis, Insyaallah bisa menurunkan lagi sekitar 4 ribu anak yang akan kami dorong untuk kembali bersekolah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Mulyono menyebut Disdikbud Kutim tengah menyiapkan proyek perubahan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan ATS di daerah tersebut.
“Langkah awal tentu validasi data hingga detail, agar kita tahu secara pasti siapa dan di mana anak-anak yang putus sekolah itu berada,” ujarnya.
Selain persoalan ATS, Mulyono juga menyoroti pernikahan dini sebagai salah satu faktor utama penyebab anak putus sekolah. Menurutnya, pencegahan terhadap praktik ini harus menjadi perhatian bersama lintas sektor.
“Pernikahan dini menjadi salah satu penyebab anak-anak berhenti sekolah. Ini harus dicegah agar generasi kita tidak kehilangan masa depan,” tegasnya.
Dengan berbagai langkah strategis dan kolaboratif, Disdikbud Kutim terus berupaya memastikan seluruh anak di Kutai Timur mendapatkan hak yang sama untuk mengenyam pendidikan. (*)


