EKONOMIKALTIMKutimNEWS

Hilirisasi Etanol BCIP Didorong Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Kutim

×

Hilirisasi Etanol BCIP Didorong Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Kutim

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Kutim Mahyunadi. Foto/Istimewa

NIUS.id – Ekonomi Kutai Timur (Kutim) sedang menghadapi tantangan untuk kembali ke level pertumbuhan yang lebih tinggi. Setelah sempat mencatat pertumbuhan di atas sembilan persen pada 2024, ekonomi daerah itu kini tumbuh sekitar 1,7 persen pada triwulan pertama 2026.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutim mulai melihat industri hilir sebagai salah satu tumpuan untuk menggerakkan kembali perekonomian daerah.

Salah satu investasi yang dinilai memiliki potensi besar adalah proyek hilirisasi etanol di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP).

Wakil Bupati Kutim Mahyunadi mengatakan, investasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi. Lebih dari itu, kehadiran industri harus mampu menciptakan efek berantai bagi perekonomian dan masyarakat lokal.

“Harapannya, hilirisasi ini bisa memberikan nilai tambah bagi daerah, membuka peluang usaha, lapangan pekerjaan dan memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Mahyunadi, Senin (7/9/2026).

Menurutnya, pengembangan industri hilir menjadi penting karena dapat mengubah pola pemanfaatan komoditas dari sekadar aktivitas di sektor hulu menjadi kegiatan industri yang menghasilkan nilai tambah lebih besar di daerah.

Proyek hilirisasi etanol di BCIP, kata dia, menjadi salah satu investasi strategis yang diharapkan dapat mendorong perubahan struktur ekonomi Kutim.

Jika proses pengolahan dilakukan di daerah, manfaat ekonomi tidak hanya berasal dari aktivitas produksi utama. Investasi juga berpotensi mendorong tumbuhnya usaha pendukung, menyerap tenaga kerja serta meningkatkan aktivitas ekonomi di sekitar kawasan industri.

Mahyunadi menegaskan, pemerintah daerah ingin memastikan manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Harapannya, hilirisasi ini bisa memberikan nilai tambah bagi daerah,” ujarnya.

Kebutuhan untuk menggerakkan ekonomi semakin terasa karena Pemkab Kutim menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai enam persen hingga akhir 2026.

Di tengah perlambatan pertumbuhan tersebut, Mahyunadi melihat investasi berbasis hilirisasi seperti proyek etanol BCIP dapat menjadi salah satu momentum untuk kembali meningkatkan aktivitas ekonomi daerah.

“Mudah-mudahan di akhir tahun kita bisa mencapai target nasional sebesar enam persen,” harapnya.

Namun, Pemkab Kutim juga menyadari bahwa strategi pemulihan ekonomi membutuhkan kajian yang lebih menyeluruh. Karena itu, pemerintah daerah berencana menggandeng akademisi dari sejumlah perguruan tinggi di Kalimantan Timur.

Kajian tersebut akan digunakan untuk melihat berbagai indikator dan faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi Kutim secara lebih komprehensif. Dengan begitu, kebijakan yang diambil diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan angka pertumbuhan, tetapi juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Mahyunadi berharap pengembangan industri hilir di Kutim terus diperkuat. Investasi seperti BCIP, menurutnya, harus mampu berkembang dari sekadar proyek industri menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat lokal. (*/Zk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *